Minggu, 06 Januari 2013

Beban Ajar Guru Akan Berubah



Perubahan kurikulum memiliki banyak konsekuensi, salah satunya terkait dengan beban mengajar guru. Guru tidak lagi hanya bertugas di depan kelas.

”Ini taruhannya bagi masa depan. Karena itu, harus ada kerja ekstrakeras, sehingga konsekuensi perubahan kurikulum ini adalah bagaimana menghitung jam beban mengajar guru. Itu bagian yang harus kita nilai,” ungkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kemarin.

Seperti diketahui, pada kurikulum baru, pendekatan yang akan dilakukan adalah tematik integratif. Dengan demikian, proses belajar mengajarnya akan lebih ditekankan pada observasi, pengamatan, analisis, serta presentasi.
Evaluasi penilaian terhadap siswa juga tidak hanya menitikberatkan kepada output melalui Ujian Nasional (UN), namun juga menilai perkembangan proses belajar siswa. ”Tugas-tugas guru di luar kelas menjadi lebih banyak, karena mereka harus mengevaluasi portofolio anak,” imbuhnya.

Pemerintah akan mengevaluasi syarat beban kerja guru. Dalam PP No 74/2008, Pasal 52 ayat (2) disebutkan, beban kerja guru paling sedikit memenuhi 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam tatap muka dalam seminggu.

Karena itu, ke depan segala tugas guru di luar kelas, seperti evaluasi proses, akan dikonversi ke dalam pengakuan, sehingga beban kerja guru tidak hanya dihitung saat yang bersangkutan mengajar tatap muka di depan kelas.
”Berapa jam mereka melakukan proses penilaian juga harus diperhatikan dan dihitung, sehingga yang sekarang 24 jam tatap muka di kelas bisa jadi berkurang, karena mereka memerlukan persiapan dan evaluasi di luar,” ungkap mantan Rektor ITS itu. 

Pihaknya mengharapkan partisipasi masyarakat untuk memberikan masukan, saran, serta kritik terhadap draf kurikulum. Masyarakat dapat berkomentar dan melihat draf uji publik tersebut di http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.

Buku Pegangan

Mendikbud mengatakan, pihaknya terus melakukan persiapan implementasi kurikulum. Yang paling mendasar adalah terkait buku pegangan, baik untuk murid maupun guru. Meski kurikulum masih dalam tahapan uji publik, pemerintah telah mempersiapkan materi bahan ajar. Pasalnya, buku panduan untuk guru harus rampung sebelum pelatihan kepada para guru dilakukan.

Menurut jadwal, pelatihan serta pembinaan guru untuk menghadapi kurikulum akan dilaksankan mulai awal tahun 2013. Pemerintah yakin waktu enam bukan cukup untuk mempersiapkan guru. ”Kami sudah paham yang berubah mana saja. Misalnya, Matematika, yang banyak berubah adalah metodeloginya. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) juga sudah kami tetapkan,” tandas mantan Menkominfo itu.
Terkait persiapan guru, akan dilakukan secara bertahap. ”Karena itu, sebelum pelatihan dimulai, buku babon untuk guru sudah harus selesai.”

Artikel diambil dari Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar