Minggu, 06 Januari 2013

Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia



Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?

Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.

Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!
Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.

Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?

Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.

Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.

Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

dikutip dari PendidikanKarakter.Com

Beban Ajar Guru Akan Berubah



Perubahan kurikulum memiliki banyak konsekuensi, salah satunya terkait dengan beban mengajar guru. Guru tidak lagi hanya bertugas di depan kelas.

”Ini taruhannya bagi masa depan. Karena itu, harus ada kerja ekstrakeras, sehingga konsekuensi perubahan kurikulum ini adalah bagaimana menghitung jam beban mengajar guru. Itu bagian yang harus kita nilai,” ungkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kemarin.

Seperti diketahui, pada kurikulum baru, pendekatan yang akan dilakukan adalah tematik integratif. Dengan demikian, proses belajar mengajarnya akan lebih ditekankan pada observasi, pengamatan, analisis, serta presentasi.
Evaluasi penilaian terhadap siswa juga tidak hanya menitikberatkan kepada output melalui Ujian Nasional (UN), namun juga menilai perkembangan proses belajar siswa. ”Tugas-tugas guru di luar kelas menjadi lebih banyak, karena mereka harus mengevaluasi portofolio anak,” imbuhnya.

Pemerintah akan mengevaluasi syarat beban kerja guru. Dalam PP No 74/2008, Pasal 52 ayat (2) disebutkan, beban kerja guru paling sedikit memenuhi 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam tatap muka dalam seminggu.

Karena itu, ke depan segala tugas guru di luar kelas, seperti evaluasi proses, akan dikonversi ke dalam pengakuan, sehingga beban kerja guru tidak hanya dihitung saat yang bersangkutan mengajar tatap muka di depan kelas.
”Berapa jam mereka melakukan proses penilaian juga harus diperhatikan dan dihitung, sehingga yang sekarang 24 jam tatap muka di kelas bisa jadi berkurang, karena mereka memerlukan persiapan dan evaluasi di luar,” ungkap mantan Rektor ITS itu. 

Pihaknya mengharapkan partisipasi masyarakat untuk memberikan masukan, saran, serta kritik terhadap draf kurikulum. Masyarakat dapat berkomentar dan melihat draf uji publik tersebut di http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.

Buku Pegangan

Mendikbud mengatakan, pihaknya terus melakukan persiapan implementasi kurikulum. Yang paling mendasar adalah terkait buku pegangan, baik untuk murid maupun guru. Meski kurikulum masih dalam tahapan uji publik, pemerintah telah mempersiapkan materi bahan ajar. Pasalnya, buku panduan untuk guru harus rampung sebelum pelatihan kepada para guru dilakukan.

Menurut jadwal, pelatihan serta pembinaan guru untuk menghadapi kurikulum akan dilaksankan mulai awal tahun 2013. Pemerintah yakin waktu enam bukan cukup untuk mempersiapkan guru. ”Kami sudah paham yang berubah mana saja. Misalnya, Matematika, yang banyak berubah adalah metodeloginya. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) juga sudah kami tetapkan,” tandas mantan Menkominfo itu.
Terkait persiapan guru, akan dilakukan secara bertahap. ”Karena itu, sebelum pelatihan dimulai, buku babon untuk guru sudah harus selesai.”

Artikel diambil dari Suara Merdeka

PGRI Usulkan Pengurangan Beban Kerja Guru



Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) akan mengusulkan perubahan aturan tentang beban kerja guru, dari 24 jam menjadi 18 jam dalam satu minggu. Pasalnya, masih banyak guru yang belum memenuhi syarat mengajar secara tatap muka selama 24 jam seminggu.

Adapun, aturan tersebut tercantum dalam Pasal 52 ayat (2), Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008, tentang Guru. Dimana dalam pasal tersebut disebutkan bahwa beban kerja guru paling sedikit memenuhi 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam dalam satu minggu.

"Kami sedang membahas usulan, dan hampir selesai, tentang beban tatap muka guru dari 24 jam menjadi 18 jam seminggu," ujar Ketua Umum PB PGRI, Sulistiyo kepada suaramerdeka.com, Jumat (21/9).
Seperti diketahui, salah satu syarat bagi guru untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi adalah wajib mengajar di dalam kelas selama 24 jam seminggu. Namun faktanya, masih banyak guru yang kekurangan jam mengajar.

Oleh karena itu, PGRI berpendapat, waktu mengajar secara tatap muka yang ideal adalah 18 jam seminggu. "Sisanya, diambil dari tugas yang dapat disetarakan dengan tatap muka, seperti tugas sebagai kepala sekolah, pembina kegiatan siswa, atau pembina ekstrakulikuler, atau tugas-tugas lainnya," terang Sulistiyo.

Diharapkan, usulan tersebut dapat sejalan dengan rencana pemerintah yang akan menambah jam belajar.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh menjelaskan, ketika kebijakan penambahan jam belajar direalisasikan, kegiatan mengajar diluar kelas dapat dihitung sebagai beban kerja guru. "Misalnya guru Pancasila, dia tidak harus mengajar pelajaran Pancasila saja yang dihitung 24 jam. Tapi, membina ekstakulikuler juga dihitung," ungkap Nuh.

Artikel diambil dari Suara Merdeka

Program Kerja Kurikulum MTS NURUL HIKMAH


Program
Indikator Program
Keterangan
Menyusun program pengajaran

1.       Mengatur jadwal les maupun program pemadatan materi
Terealisasi
2.       Menbuat buku pedoman pembuatan perangkat pembelajaran
Terealisasi
Menyusun dan menjabarkan kalender pendidikan
1.       Membuat kaldik MTs
Terealisasi
2.       Mentukan hari efektif KBM dan hari libur
Terealisasi
Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran
1.       Memetakan pembagian jam mengajar guru dan jadwal KBM
Terealisasi
2.       Menyusun rancangan tugas tambahan guru
Diatur oleh Kamad
Menyusun jadwal evaluasi belajar dan pelaksanaan ujian akhir
1.       Mengatur jadwal mid semester dan tes akhir semester I/II
Terealisasi
2.       Mengatur jadwal remidi
Belum di sepakati (dibuat dalam penyusunan KTSP)
Menerapkan kriteria persyaratan kenaikan kelas dan ketamatan

1.       Mengatur jadwal rapat kenaikan kelas
Diatur oleh kamad
2.       Membuat pedoman  kriteria kenaikan dan kelulusan dalam workshop
Belum terealisasi (Mengacu KTSP yang lama)
Mengatur jadwal penerimaan rapor dan STTB

1.       Membuat buku penerimaan rapor
Suda dibuat
2.       Membuat buku penerimaan STTB
Sudah dibuat
Mengkoordinasikan, menyusun dan mengarahkan penyusunan kelengkapan mengajar
1.       Mengadakan workshop 2 kali selama setahun minimal
Baru 1 kali (menunggu kebijakan kamad)
Mengatur pelaksaan program perbaikan dan pengayaan
1.       Mengatur jadwal remidi (dibuat dalam workshop)
Belum di sepakati (dibuat dalam penyusunan KTSP)
Mengatur pengembangan MGMP/MGBP dan koordinator mata pelajaran
1.       Menginformasikan kegiatan seminar,MGMP kepada guru
Bila ada informasi maupun kebijakan kamad
Melakukan supervisi administrasi akademis
1.       Membuat buku evaluasi (supervisi) perangkat mengajar guru
Belum terealisasi (format terlampir)
Melakukan pengarsipan program kurikulum
1.       Membuat buku kegiatan kurikulum
Sudah ada tetapi isi kurang lengkap
Penyusunan laporan secara berkala
1.       Melaporkan kepada kepala madrasah tentang :
a.    Kinerja guru dalam mengajar
Sesuai kebijakan kamad
b.    Perangkat mengajar yang dibuat guru
Sesuai kebijakan kamad
c.     Hasil workshop /seminar

Menunggu kelengkapan laporan